Cleared land in central Kalimantan, Indonesia, 2019

Indonesia membuat kemajuan menuju minyak kelapa sawit antideforestasi

Deforestasi di Indonesia untuk minyak kelapa sawit sudah menurun secara signifikan, dengan penurunan terbesar di rantai pasok yang dikelola berdasarkan komitmen antideforestasi.Namun, kenaikan harga minyak kelapa sawit dan meningkatnya peran pedagang yang memiliki tingkat transparansi publik yang lebih rendah mengancam akan menghambat kemajuan tersebut.

Read in other languages:

中文English
14 Sept 2022

Robert Heilmayr, Jason Benedict

Photo credit: Cleared land in central Kalimantan, Indonesia, 2019 (Ariyo/Auriga Nusantara)

Pada 2021, Indonesia memproduksi 46 juta ton minyak kelapa sawit mentah (CPO), sehingga menjadikan negara ini produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Industri minyak kelapa sawit berkembang menjadi bagian penting perekonomian Indonesia, mewakili 4,5% dari PDB dan membantu jutaan warga Indonesia keluar dari kemiskinan. Sebagian besar perkembangan ini didorong oleh permintaan produk minyak kelapa sawit internasional. Indonesia adalah pengekspor terbesar minyak kelapa sawit mentah dan murni di dunia, mengekspor lebih dari 58% total produksi dan berkontribusi sebanyak 59% dari total ekspor global.

Penurunan deforestasi sekalipun terjadi peningkatan produksi

Perluasan perkebunan kelapa sawit menjadi pendorong penting deforestasi di Indonesia selama 20 tahun terakhir, mencakup sepertiga (3 juta hektare) hilangnya hutan primer di Indonesia. Deforestasi ini, serta pengeringan lahan gambut dan kebakaran lahan terkait, merupakan kontributor penting terhadap perubahan iklim global dan hilangnya keanekaragaman hayati, juga rendahnya kualitas udara di tingkat lokal. Karena banyak rantai pasok minyak kelapa sawit Indonesia saat ini dimulai dengan produksi di lahan yang baru ditebang, setiap 1.000 ton minyak kelapa sawit yang diproduksi pada 2020 dikaitkan dengan rata-rata 3,24 hektare risiko deforestasi, mulai dari nol hektare per 1.000 ton untuk kinerja terbaik 10% dari produksi, hingga 18,2 hektare per 1.000 ton untuk kinerja terburuk 10% dari produksi.

Namun, Indonesia berhasil mencapai pembalikan tren deforestasi yang luar biasa, termasuk deforestasi untuk produksi minyak kelapa sawit. Pada 2018–2020, deforestasi untuk minyak kelapa sawit mencapai 45.285 hektare per tahun – hanya 18% dari tingkat tertinggi pada 2008–2012. Yang penting adalah deforestasi menurun pada periode perluasan produksi minyak kelapa sawit yang terus berlanjut. Walaupun penurunan deforestasi ini dihubungkan dengan penurunan nilai pasar minyak kelapa sawit mentah, kenaikan tajam harga minyak kelapa sawit baru-baru ini tidak lantas diikuti oleh peningkatan deforestasi yang didorong oleh minyak kelapa sawit – satu alasan untuk optimis tapi tetap berhati-hati.

Sekalipun tingkat deforestasi menurun,2,4juta hektarehutan yang masih utuh tetap beradadi dalam konsesi kelapa sawit Indonesia. Luasnya kawasan hutan yang ditetapkan untuk produksi minyak kelapa sawit ini menekankan peluang untuk konservasi, serta potensi risiko perluasan minyak kelapa sawit selanjutnya yang akan mengancam hutan hujan Indonesia. Tantangan fundamental untuk dekade selanjutnya adalah memenuhi peningkatan permintaan yang berlanjut untuk produk yang dibuat dari minyak kelapa sawit, sambil memastikan deforestasi terus menurun.

Deforestasi terkini terkonsentrasi di Kalimantan dan Papua

Walaupun deforestasi pada umumnya menurun di seluruh Indonesia selama satu dekade terakhir, beberapa provinsi terus mengalami konversi hutan ke perkebunan kelapa sawit yang signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, deforestasi untuk produksi minyak kelapa sawit terkonsentrasi di provinsi Kalimantan dan Papua yang kaya dengan hutan. Kedua pulau ini menyumbang 77% dari total deforestasi untuk kelapa sawit di Indonesia pada 2018–2020.

Yang penting adalah minyak kelapa sawit yang diproduksi di provinsi Papua mengalami peningkatan risiko deforestasi sebanyak 24% yang berasal dari peningkatan produksi minyak kelapa sawit nyaris dua kali lipat antara 2018 dan 2020. Sejak 2010, perusahaan perkebunan kelapa sawit terus berinvestasi di dalam pengembangan perkebunan dan pabrik pengolahan di Papua, sementara pemerintah Indonesia berinvestasi dalam program pembangunan jalan untuk memfasilitasi pengembangan lahan. Sekalipun jumlah pabrik pengolahan yang beroperasi di provinsi Papua meningkat dari 4 ke 11 antara 2015 dan 2020, provinsi Papua saat ini hanya menyumbang 1% dari kapasitas pabrik pengolahan Indonesia. Jika Papua akan meningkatkan jumlah pabrik pengolahan dan mengikuti jejak langkah Kalimantan di masa lalu, diperkirakan 4,5 juta hektare – sekitar 13% dari total 34,29 juta hektare kawasan hutan – dapat dikonversi ke perkebunan kelapa sawit dan perkebunan lain pada 2036.

Komitmen dan transparansi perusahaan

Sektor kelapa sawit Indonesia dikenal atas luasnya pengadopsian komitmen antideforestasi (KAD) – lebih dari 85% ekspor minyak kelapa sawit dilakukan oleh perusahaan dengan KAD resmi. Namun, dalam beberapa tahun pertama sesudah komitmen ini diadopsi, rantai pasok yang diatur oleh KAD memiliki risiko deforestasi yang relatif mirip dengan sektor yang lebih luas.

Pada tahun-tahun selanjutnya, perusahaan-perusahaan sudah menerapkan komitmen mereka sepenuhnya dan mulai membuka informasi untuk umum terkait rantai pasok mereka. Pada 2018–2020, 87% ekspor minyak kelapa sawit murni dipasok dari kilang yang secara terbuka melaporkan pabrik pengolahan tempat mereka membeli minyak kelapa sawit mentah. Dengan mengintegrasikan daftar ini ke model rantai pasok Trase, kami dapat menyediakan analisis yang paling cermat dan juga membandingkan kinerja lingkungan pengekspor yang sudah mengadopsi KAD dengan yang belum melakukannya.

Secara keseluruhan, kami menemukan perbedaan penting dalam deforestasi di kedua rantai pasok ini. Pengekspor dengan KAD sekarang membeli minyak kelapa sawit dari rantai pasok dengan tingkat deforestasi yang lebih rendah untuk kelapa sawit (lihat gambar di bawah ini). Serupa dengan itu, setiap ton minyak kelapa sawit yang diekspor oleh penjual dengan KAD hanya memiliki 70% risiko deforestasi dibandingkan dengan setiap ton minyak kelapa sawit yang diekspor oleh pedagang lain. Bersama-sama, hasil ini menyediakan bukti bahwa pasar yang berbeda-beda memiliki tingkat deforestasi yang jauh lebih rendah ketika rantai pasok diatur oleh KAD.

Permintaan domestik untuk minyak kelapa sawit Indonesia meningkat

Sejak 2013, India, China, dan Uni Eropa menjadi pasar ekspor terbesar untuk minyak kelapa sawit Indonesia, secara keseluruhan mencakup 49% dari ekspor pada 2013–2020. Namun, kepentingan relatif dari setiap pasar ini sudah berubah. Pada 2013, India (29% dari ekspor) dan Uni Eropa (17% dari ekspor) adalah pengimpor terbesar minyak kelapa sawit Indonesia. Pada 2020, ekspor ke India (16%) dan Uni Eropa (12%) menurun, dan China menjadi pengimpor terbesar minyak kelapa sawit Indonesia, sehingga meningkatkan pangsa pasarnya dari 11% ekspor pada 2013 menjadi 16% pada 2020.

Yang penting adalah minyak kelapa sawit Indonesia mengalami peningkatan penggunaan di Indonesia. Penggunaan minyak kelapa sawit domestik untuk konsumsi lokal atau manufakturing hilir meningkat dari 32% produksi pada 2018 ke 40% pada 2020. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAKPI) menunjukkan bahwa pada 2020, lebih dari setengah minyak kelapa sawit yang dikonsumsi domestik dipakai untuk industri biodiesel dan oleokimia dan sisanya dipakai dalam produk makanan.

Usaha pemerintah Indonesia untuk memperluas produksi domestik dan penggunaan biodiesel adalah salah satu pendorong pertumbuhan permintaan domestik, dan dilihat sebagai alasan kurangnya pasokan dan kenaikan harga minyak goreng yang melanda Indonesia pada akhir 2021 dan awal 2022. Harus dicatat bahwa sekalipun 30% produksi biodiesel dan oleokimia diekspor, Trase mengategorikan semua pemrosesan hilir Indonesia sebagai “pemrosesan/konsumsi domestik”.

Selain menjadi pasar terbesar untuk minyak kelapa sawit Indonesia, Indonesia, China, dan India cenderung memasok dari rantai pasok dengan risiko deforestasi yang secara komparatif lebih tinggi. Kami memperkirakan pasar tersebut cenderung bergantung pada minyak kelapa sawit yang memiliki 2,4 kali risiko deforestasi per ton dibandingkan dengan ekspor yang ditujukan untuk ekspor ke Uni Eropa.

Kombinasi volume besar dan risiko deforestasi yang relatif tinggi berarti pembelian minyak kelapa sawit gabungan dari ketiga negara ini mencakup 61% dari total risiko deforestasi Indonesia. Sebaliknya, sekalipun 97% minyak kelapa sawit yang merambah ke Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris diekspor oleh kelompok dengan komitmen antideforestasi, pasar ini hanya membeli 9% dari produksi minyak kelapa sawit Indonesia pada 2020.

Grup pengekspor berbasis di Indonesia termasuk pengekspor dengan pertumbuhan tercepat

Pasar ekspor Indonesia secara konsisten didominasi oleh empat grup pengekspor: Wilmar, Sinar Mas, Musim Mas, dan Royal Golden Eagle. Namun, sejak 2015, pangsa pasar gabungan mereka sejumlah 68% dari ekspor minyak kelapa sawit menurun hingga 59% dari total ekspor pada 2020. Hanya Royal Golden Eagle yang meningkatkan pangsa pasar ekspornya pada periode ini. Konsentrasi pasar yang menurun ini sebagian disebabkan oleh pendatang baru di sektor ini – jumlah grup korporat yang mengekspor dari Indonesia meningkat sebanyak 24% antara 2018 dan 2020.

Beberapa perusahaan di Indonesia yang secara historis lebih kecil, termasuk KPN Corp, Astra Agro Lestari, dan Citra Borneo Indah (CBI) adalah pengekspor minyak kelapa sawit dengan pertumbuhan tercepat, dengan persentase kurang dari 5% ekspor pada 2018 hingga lebih dari 10% pada 2020. Ketiga perusahaan ini mengkhususkan operasi ekspor ke pasar di Asia dan Afrika, dengan lebih dari 98% ekspor mereka pada 2020 ditujukan ke pasar tersebut. Ketiga pengekspor ini juga satu-satunya grup korporat di antara 12 grup pengekspor terbesar di Indonesia yang menerbitkan laporan keterlacakan pada 2020. Sekalipun para pengekspor ini sudah mengadopsi komitmen antideforestasi, rata-rata ton minyak kelapa sawit yang diekspor oleh grup tersebut memiliki risiko deforestasi 1,7 kali lebih besar dibandingkan dengan rata-rata ekspor minyak kelapa sawit lainnya.

Para penulis berterima kasih kepada komunitas peneliti yang luar biasa yang sudah berkontribusi dalam penelitian ini.Secara khusus, analisis ini tidak akan dapat dilaksanakan tanpa kontribusi penting dari Helen Bellfield, Kim Carlson, Ramada Febrian, Toby Gardner, David Gaveau, Timer Manurung, Vivian Ribeiro, Clément Suavet, dan Dedy Sukmara.

Untuk merujuk ke artikel ini, silakan pakai kutipan berikut ini: Heilmayr, R., & Benedict, J. (2022). Indonesia membuat kemajuan menuju minyak kelapa sawit antideforestasi. Trase. https://doi.org/10.48650/50NG-RT71

Trase. (2022). Peta rantai pasok ‘SEI-PCS Indonesia palm oil v1.2’: Sumber data dan metode. Trase. https://doi.org/10.48650/4C88-8J63

Related insights

Displaying 5 of 41 related insights

We use cookies on our site.